KEJUJURAN 9
Seperti biasa kami berkeliling kampung saat giliran ronda malam. Usai ambil jimpitan,kami 'jlang' lagi menyusuri rumah warga diluar wilayah RT. Saat itu tengah mlm,kami berempat sedianya mau bertandan di rumah seorang (ngerti dewek). Ketika temanku mengetuk pintu,tak terdengar apapun dr dalam. Giliran teman yg satu lg maju,yg terdengar hy desahan dan erangan perempuan dr sudut kamar. Setelah sekian lama....aku maju dan kugedor jendela....dan berhasil ada suara perempuan setengah berteriak dari dalam kamar.
"Lha pada kebangeten temen.......mamake ora nengumah!!! Mau lunga karo Om Dar. Wengi2 koh pd ngganggu wong turu bae....! Tek omongna ninine ngko!!! Kye maning....(jan wela2 nyebut jeneng) tek omongna mboke ko mengko!!"
Sejak saat itu saat jadwal ronda sy medagrog saja di Pos Kamling.
Blog ini menceritakan sesuatu yang nyata ke dalam bentuk maya dan sesuatu yang maya ke dalam nyata.....
Selasa, 01 November 2016
Selasa, 22 Maret 2016
KEJUJURAN 4
KEJUJURAN 4
Suatu hari di Bank Jateng ketika kami berdua membuka rekening tabungan utk dana hibah pembangunan gedung sekolah. Setelah menyerahkan formulir,suasana bank lg rame. Ada yg nunggu panggilan,ada yg antri bahkan ada yg senggar senggur tidur sambil duduk. Petugas bank seorang tante muda memanggil kami....dan bertanya, "Nama ibu kandung bapak Soderi siapa?" "N i t e m...!" Jwb tmn saya. "Nama ibu kandung bapak Bajigur Kardjit siapa,Pak?" Langsung dg keras kujawab," D a r k e m.. Bu!!!!" .......gerrr..... Deneng wong2 pd ngguyu? |
KEJUJURAN 8
KEJUJURAN 8
"Uneg-unik" ini sedianya saya luncurkan pd penghujung th ini. Tapi karena situasi yg tdk stabil dan didorong gemuruhnya magma dalam dada....(uwaduuhhhh) terpaksa sy gelar hari ini. Jikalau pengalaman ini kebetulan sama dg bagian dari masa lalu anda maka itu hy kebetulan semata dan andapun harus jujur mengakuinya.
Suatu malam di bln Maret saat usiaku 21 th....aku tidur satu kasur dg kawan karibku. Dini hari aku bermimpi,singkat cerita di sungai kecil aku kebelet pipis. Maka tak byk pikir akupun berhajat disitu. Lega.....dan saat dipertengahan aku terbangun. Tp karena 'mbandreng' mk kubiarkan soorrrr...... dan membasahi seluruh area termasuk kawanku yg disebelah kananku.
Pascangompol diam2 aku geser tempat tidur di samping kiri kawanku.
..........Aku marah......di pagi saat temanku bangun. Temanku gugup dan terbara-bata,"Deneng teles ya...kok bisa ya....?!!!"
21 tahun umurku saat itu sodara2....adakah kesamaan atau barangkali lebih tragis dari insiden itu?
"Uneg-unik" ini sedianya saya luncurkan pd penghujung th ini. Tapi karena situasi yg tdk stabil dan didorong gemuruhnya magma dalam dada....(uwaduuhhhh) terpaksa sy gelar hari ini. Jikalau pengalaman ini kebetulan sama dg bagian dari masa lalu anda maka itu hy kebetulan semata dan andapun harus jujur mengakuinya.
Suatu malam di bln Maret saat usiaku 21 th....aku tidur satu kasur dg kawan karibku. Dini hari aku bermimpi,singkat cerita di sungai kecil aku kebelet pipis. Maka tak byk pikir akupun berhajat disitu. Lega.....dan saat dipertengahan aku terbangun. Tp karena 'mbandreng' mk kubiarkan soorrrr...... dan membasahi seluruh area termasuk kawanku yg disebelah kananku.
Pascangompol diam2 aku geser tempat tidur di samping kiri kawanku.
..........Aku marah......di pagi saat temanku bangun. Temanku gugup dan terbara-bata,"Deneng teles ya...kok bisa ya....?!!!"
21 tahun umurku saat itu sodara2....adakah kesamaan atau barangkali lebih tragis dari insiden itu?
KEJUJURAN 7
![]()
Kardjito Kardjit menambahkan 2 foto baru.
|
KEJUJURAN 7:
Masa kecil dulu,kami senang bermain 'rumah tangga'. Membuat rumah dari daun pisang,saling berpasangan laksana suami istri walau dg sesama laki-laki. Masak2an dan lain2. Suatu hari sy mencuri telur ayam jawa dari dapur dan direbus pakai kaleng. Ayah pulang... tahu yg direbus adalah telur yg sy curi,beliau 'mengintrogasi' sy dh pertanyaan2. Sy menjawab bahwa telur itu sy temukan di kebun. Kami diajak ke kebun tempat telur itu sy temukan. "Neng kene....eh neng kana....eh disini....." Umur 7-8 tahunan saat itu aku wis ngreti KEWIRANGAN. Sore hari sy didudukan di meja dg 24 telur rebus ayam kampung utk dihabiskan. Aku nangissss...... |
KEJUJURAN 6
KEJUJURAN 6:
Hari berganti hari, minggu dan bulan saling berpacu. Kini, pada saat itu musim "mbarang gawe" tiba. Kadang dalam kurun waktu satu bulan ada belasan undangan ada di meja. Semalem saat itu ada 5 orang tetangga punya hajatan bersamaan,sehingga saya harus mempersiapkan 5 amplop. Saya membeli di warung Pasar Rp 2000 dapat 8 amplop. Ada 3 amplop kosong yang saya pisahkan di saku jaket. Kami berombongan memulainya dari ruamh kaki Karwan.....dan hingga pukul 11.30 kami pulang. Ditengah jalan saya berniat membeli rokok. kuambil semua recehan dalam saku dan amplop di saku. Terkejut.....dari 3 amplop ternyata yang dua berisi uang masing2 25 ribu. Duh.......sapa sing tek kondangi amplop kosong ya....? Atas saran teman,uang dalam 2 amplop nggo tuku rokok karo mendhoan kabeh.....
(saben2 ketemu karo salah satu dari lima orang tersebut....aku mlirik,ngamat-amati raut wajahnya.....)
Kardjito Kardjit memperbarui statusnya.
KEJUJURAN 5
Suatu sore ketika mau mandi. Didalam kamar mandi ketika hendak menyiram tubuh.....eh handuk belum ada didalam. Tadi lupa tak dibawa masuk. Sayapun keluar bulat-bulat dan kutemukan handuk diatas kursi dekat meja makan.
Jarku ya urung tuwa nemen...... Takut ada orang lihat,secepat kilat kubawa kedalam.... dan benar....anak istri dan beberapa temannya pulang langsung pd duduk menghadap meja makan.
Subhanallah.....ketika usai mandi saya baru sadar ternyata yg sy bawa itu kursinya. Dan handuk 'medagrog' diatas meja makan.......
Oh....Wakem...Wakemmm....
KEJUJURAN 5
EJUJURAN 5
Suatu sore ketika mau mandi. Didalam kamar mandi ketika hendak menyiram tubuh.....eh handuk belum ada didalam. Tadi lupa tak dibawa masuk. Sayapun keluar bulat-bulat dan kutemukan handuk diatas kursi dekat meja makan.
Jarku ya urung tuwa nemen...... Takut ada orang lihat,secepat kilat kubawa kedalam.... dan benar....anak istri dan beberapa temannya pulang langsung pd duduk menghadap meja makan.
Subhanallah.....ketika usai mandi saya baru sadar ternyata yg sy bawa itu kursinya. Dan handuk 'medagrog' diatas meja makan.......
Oh....Wakem...Wakemmm....
Suatu sore ketika mau mandi. Didalam kamar mandi ketika hendak menyiram tubuh.....eh handuk belum ada didalam. Tadi lupa tak dibawa masuk. Sayapun keluar bulat-bulat dan kutemukan handuk diatas kursi dekat meja makan.
Jarku ya urung tuwa nemen...... Takut ada orang lihat,secepat kilat kubawa kedalam.... dan benar....anak istri dan beberapa temannya pulang langsung pd duduk menghadap meja makan.
Subhanallah.....ketika usai mandi saya baru sadar ternyata yg sy bawa itu kursinya. Dan handuk 'medagrog' diatas meja makan.......
Oh....Wakem...Wakemmm....
KEJUJURAN 3
KEJUJURAN 3
Suatu sore di minggu ke-2 setelah pernikahan kami. Sudah beberapa hari saya senang bermain petak umpet dg istri. Pd suatu sore istri sy pergi ke kamar mandi. Sy mengendap menuju pintu,menunggu istri keluar dan akan sy kejutkan dengan bentakan agak mesra seraya tangan kujulurkan tepat didada. Kunci pintu kmr mandi terdengar dibuka. Sy langsung, "Dooorrr....." sambil kupegang dada istri saya. "Subhanallah...!!! Eh lagi apa2an....cah gemblung!!!" Pet. Mataku terasa gelap,jantung berhenti berdenyut atau bahkan berdetak kencang sekencang kucing mengejar tikus. Oh.......nasib....ternyata sing tek tubruk ibu mretua.... "Ngggg....nga...ngapunten......ngaaaa....."
Suatu sore di minggu ke-2 setelah pernikahan kami. Sudah beberapa hari saya senang bermain petak umpet dg istri. Pd suatu sore istri sy pergi ke kamar mandi. Sy mengendap menuju pintu,menunggu istri keluar dan akan sy kejutkan dengan bentakan agak mesra seraya tangan kujulurkan tepat didada. Kunci pintu kmr mandi terdengar dibuka. Sy langsung, "Dooorrr....." sambil kupegang dada istri saya. "Subhanallah...!!! Eh lagi apa2an....cah gemblung!!!" Pet. Mataku terasa gelap,jantung berhenti berdenyut atau bahkan berdetak kencang sekencang kucing mengejar tikus. Oh.......nasib....ternyata sing tek tubruk ibu mretua.... "Ngggg....nga...ngapunten......ngaaaa....."
KEJUJURAN: 2
KEJUJURAN 2
Jujur bisa ke orang lain bisa juga terhadap diri sendiri. Jujur yang kedua ini adalah tidak lebih dari sebuah pengakuan. Tidak perlu anda menanggapi dg serius apalagi mencemooh,mencibir atau tertawa....
Suatu waktu disaat itu,saya sering pulang malam bahkan pagi hari hanya karena kegemaran duduk2 dikursi bersama teman menghadap meja sambil 'mlintiri' beberapa potong kertas. Walau tdk tiap malam,tapi sering kami lakukan hingga lebih kurang setengah tahun.
Suatu pagi ketika aku baru pulang,kudapati istri sdh menghidangkan nasi panas dg mendoan anget. Tanpa ba bi bu aku lgsg menyantapnya. Ketika kukunyah separoh mendoan,aku terhenti. Ada yg aneh dg mendoan pagi ini. Lembek tp dalamnya keras dan 'wuled'.
Betapa kagetnya...setelah kuperhatikan mendoan yg lain dlm piring ternyata nampak jelas ada gambar wajik bernomor 9 dipojoknya. Mendoan yg lain ada gambar K Riting.....
........As Daun waru merah (as hati)
Kutengok kanan kiri...ternyata istriku sdh pergi ke pasar.
KEJUJURAN
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=720474548086770&set=a.333004893500406.1073741825.100003726958579&type=3&theater
KEJUJURAN: 1
Jujur itu sikap terpuji. Baiknya memberikan kemudahan setiap upaya.Tapi....jujur juga akan menyakitkan....
Malam itu sy pulang agak larut (02.15) sehingga istripun menanyakan yg kujawab dg jujur,seperti nasihat Ustadz saat pengajian.
"Aku dari kebon kulon (istilah kami utk menyebut tempat karoke) nemani pak Bau ngelur kabel....."
Sambil memberi sarung dan bantal istriku membuka pintu dapur dan, "Metu,kiye degawa kebon,turu njaba....!! Cepet...!!"
Selasa, 27 Januari 2015
LEGENDA GUNUNG GABER
Legenda GUNUNG GABER
Versi Bajigur Kardjit
Selepas
senja petang itu tampak bulan merah muncul di kaki langit di puncak
bukit. Malam yang beberapa hari terakhir ini tampak redup, samar karena
gelap berbaur cahaya bulan, kini cerah bagai di senja hari. Bahkan
lebih indah karena langit dihiasi jutaan bintang yang seakan berkedip
tertiup angin. Indah tak terperikan. Saat-saat seperti ini biasa
dimanfaatkan oleh seluruh warga kampung untuk bercengkerama bersama
kerabat dan tetangga di padang rumput di sudut kampung. Orang tua
membawa anak-anak mereka untuk bermain petak umpet, sebagian anak yang
menginjak remaja bernyanyi-nyanyi sambil sesekali berbincang tentang
masa depan mereka. Para orang tua duduk-duduk memperbincangkan banyak
hal termasuk ladang-ladang ubi mereka yang kini telah berumur dan siap
untuk dipanen. Sesekali terdengar kidung asmarandana dari dalam gubug
berpelita lentera tak jauh dari tempat mereka berkerumun.
Malam
kian larut, udara semakin dingin. Satu persatu para orang tua mengajak
anaknya untuk pulang ke rumah masing-masing. Kebanyakan mereka langsung
tidur, namun beberapa orang yang lebih tua memilih untuk duduk di depan
tungku di dapur untuk memasak air atau membakar pala pendem
buat nyamikan hingga menjelang tengah malam. Sesaat kemudian suasana
malam kembali sepi. Mereka tertidur pulas dengan mimpi mereka
masing-masing.
Menjelang fajar mereka telah tebangun dan sibuk
dengan aktifitas rutinnya. Para ibu sibuk di dapur sedang para bapak
pergi ke ladang. Sebagian anak laki-laki mengikuti orang tua membantu di
ladang, sebagian lagi ada yang langsung bertemu kawan-kawannya pergi ke
hutan mencari kayu bakar. Kebanyakan anak perempuan sibuk di sungai
kecil di lembah untuk mencuci pakaian dan peralatan dapur. Aktifitas
yang tak terjadwal itu rutin dilakukan tanpa beban. Menjelang siang
kadang mereka pulang dari ladang, namun banyak yang harus dikirimi
makanan oleh istri atau anak mereka ke ladang.
Malam kedua kembali
terang benderang. Merekapun berkumpul lagi seperti malam sebelumnya,
bersendaugurau sambil menikmati malam yang penuh bintang dan sinar
bulan. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan menghilangnya sebagian bintang
yang tengah mereka pandangi. Tidak lama kemudian semua bintang
menghilang tak satupun tersisa. Sinar bulanpun mulai meredup hingga
malam yang seharusnya adalah purnama kini gelap gulita. Bukan karena
langit berkabut atau malam mau turun hujan, bukan pula raksasa Gerhana
yang tengah kelaparan memakan bulan. Lalu apa gerangan yang telah
terjadi malam itu?
Namanya Putri Gerlipa yang mendiami kadipaten
Gerlimut adalah seorang puteri yang cantik jelita. Tak heran banyak
lelaki yang tergila-gila kepadanya. Karena banyaknya lelaki yang ingin
meminang menjadikannya istri, maka Putri Gerlipa mengajukan persyaratan
bagi calon pendampingnya berupa sayembara. Bagi para pelamar diminta
untuk membawa untaian manik-manik yang terbuat bukan dari berlian batu
permata, tapi terbuat dari seribu bintang. Mendengar permintaan Sang
Putri, maka para lelaki yang ingin mendapatkan Sang Putri, mengikuti
sayembara tersebut. Dengan berbagai upaya mereka beradu cepat dengan
harapan bisa mendapatkan bintang-bintang di langit, mengumpulkannya
hingga seribu buah dan diuntai menjadi manik-manik yang akan
dipersembahkan kepada Sang Putri. Namun tidak sedikit dari mereka yang
pasrah dan memilih mundur dari kompetisi itu. Mereka hanya mengumpat dan
bergumam, “Kenapa harus dari bintang.....bukan dari kunang-kunang?”
Singkat
cerita tinggallah dua pria perkasa yaitu Kebo Gumulung dan Grandong
yang mampu bersaing berebut bintang. Mereka sibuk memetiki bintang
dengan menggunakan puncak Gunung Slamet sebagai tumpuan hingga tangannya
mampu menggapai bintang yang bertaburan di langit. Diambilnya satu demi
satu, dimasukannya kedalam kantong yang dibuat sedemikian rupa. Kadang
beberapa buah bintang itu terjatuh ke kaki gunung, dan itu akan menjadi
rebutan ratusan pria dibawahnya. Kebo Gumulung dan Grandong saling
berebut hingga menjadikan pertikaian. Mereka saling pukul dan saling
serang. Kalah dalam perkelahian, Kebo Gumulung terlempar jatuh ke
lembah. Tinggalah Grandong sendirian tanpa ada pesaing untuk
mempersunting Putri Gerlipa. Dibenaknya hanya ada wajah Putri yang
jelita. Nasi sudah di bibir, pikirnya.
Mengetahui penyebab
hilangnya bintang-bintang di langit saat bulan purnama itu adalah ulah
dari Grandong, maka marahlah kesatria bijak Raden Kertayasa yang setiap
malam memperhatikan kegembiraan warga kampung. Ia mendekati mahluk yang
tengah asyik mengumpulkan bintang yang ia petik dari langit.
“Hai
Ki Sanak, kembalikan bintang-bintang itu ke langit! Tidak tahukah bahwa
bintang itu adalah milik Hyang Kuasa yang diperuntukan buat warga
kampung?”
“Ha ha ha ha.....Kertayasa......jangan kau ganggu aku.
Lihat Putri Gerlipa telah menunggu kedatanganku bersama manik-manik ini.
Pergilah haiii, Kertayasa!” Hardik Grandong, tanpa mempedulikan
perintah Kertayasa.
Raden Kertayasa marah besar, didekatinya
puncak itu lalu ditendangnya hingga puncak itu berterbangan ke arah
selatan bersama tubuh Grandong. Tubuh Grandong terpelanting ke udara
dan jatuh disebelah utara jasad Kebo Gumulung yang telah ia kalahkan
sebelumnya. Diambilnya satu demi satu oleh Raden Kertayasa bintang yang
terjatuh dan diterbangkannya kembali ke langit. Bintang-bintang itu
terbang dan menari-menari memenuhi seluruh langit malam itu. Bulan
tersenyum melihat seluruh warga kampung bergembira dan memuja dirinya.
Warga kampung kembali menjalani malam purnama dengan suka cita tanpa
harus was-was akan munculnya manusia raksasa Grandong.
Siapakah
Grandong itu? Grandong adalah pria pendatang dari negeri sebrang berujud
setengah raksasa yang perkasa. Bukan saja sakti dengan ilmu sihir dan
kanuragan, tapi perkasa “kelelakiannya”. Konon ia masih keturunan Raja
Alengka Prabu Rahwana. Ia beristri lebih dari 40 orang dan mempunyai
anak ratusan orang. Itulah walaupun telah beristri lebih dari 40 orang
ia tetap ingin menambah istri acapkali menemukan perempuan cantik. Tapi
hasrat untuk beristri lagi terpupus sudah karena ia harus terbunuh oleh
tendangan kaki Prabu Kertayasa. Kantung testis (gaber) miliknya terlepas
dari tubuh dan tertinggal disebelah utara jasadnya. Konon kantong
testis yang bergaris tengah belasan meter itu menggunung dan lama-lama
tumbuh semak dan berbagai tumbuhan hutan yang selanjutnya dikenal dengan
nama Gunung Gaber. Tempat jasad Grandong yang
berada di lembah selatan dikenal dengan nama grumbul Grandong
berdekatan dengan grumbul Kebo Gumulung. Beberapa ratus tahun kemudian
Raden Kertayasa meninggal dunia dengan cara murca / muksa, yaitu
meninggal dunia tanpa diketahui jasadnya. Ia hanya meninggalkan
petilasan tepat di tengah kampung. Kampung tempat Raden Kertayasa
mengakhiri aktifitas duniawinya diberi nama desa Ketayasa. Pada masa
pemerintahan Bupati Soekarno Agoeng sekitar tahun 1970-an desa Ketayasa
diganti menjadi Kotayasa. Artinya Desa Yang Akan Menjadi Kota.
Sedangkan puncak Gunung Slamet yang terdampar jauh ke arah selatan itu
diberi nama Gunung Tugel yang berada di selatan kota Purwokerto.
Gunung
Gaber masih berdiri kokoh hingga sekarang sebagai jelmaan dari kantung
testis (gaber) si Grandong. Pada malam-malam tertentu puncak Gunung
Gaber banyak didatangi para “peziarah” pria untuk melakukan ritual.
Kebanyakan para peziarah itu bermeditasi meminta untuk dikaruniai
kejantanan, keperkasaan pria. Tersebar kabar, bagi pria lemah syahwat
akan kembali perkasa setelah melakukan meditasi di puncak tersebut.
Maklum karena tempat tersebut terpendam kedua testis milik mahluk
perkasa bernama Grandong.
Letak Gunung Gaber berada di sebelah
timur desa Kotayasa dengan lereng timur menjadi batas desa Kotayasa
dengan desa Gandatapa. Gunung Gaber mudah dijangkau baik dengan jalan
kaki maupun kendaraan bermotor melewati jalan beraspal. Jarak dari
pemukiman hanya berkisaran 500 meter saja lewat pasar Tong Barang desa
Kotayasa ke arah timur.
Inilah cerita tentang terjadinya Gunung
Gaber yang lokasinya terletak di desa Kotayasa, kecamatan Sumbang,
kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Cerita ini fiktif belaka. Apabila
tersirat hal-hal ghaib, bukanlah ajakan untuk berbuat musrik.
BEST PRATICE
KEJUARAAN SEBAGAI SALAH SATU BEKAL MENGAJAR
Oleh: Bajigur Kardjit
Semua
biasa saja. Itulah kalimat yang tepat untuk mengawali kisah seorang
guru SD ini. Tidak ada kelebihan yang menonjol pada diri seorang guru
yang bernama Kardjito yang kini mengajar di SD Negeri 1 Kotayasa, UPK
Sumbang, Kabupaten Banyumas. Ia tidak termasuk guru berprestasi sebab
kendati ia lulusan sekolah guru tahun 1985, sampai sekarang belum
memiliki sertifikat mengajar. Artinya ia tidak terlalu istimewa
dibanding dengan yang lain.
Semenjak
remaja ia mempunyai hobi menulis. Ia sering mengisi rubrik Gelanggang
Remaja pada koran SKM. Sesekali berpuisi dibeberapa acara resepsi baik
di sekolah maupun diluar sekolah. Ia pernah menjadi juara tiga pada
lomba lawak yang diselenggarakan oleh Pusat Penerangan Masyarakat
(PUSPENMAS) Kabupaten Banyumas. Pada tahun 1982 bersama rekannya ia
mendirikan group lawak yang berjalan hingga tahun 1988. Kendati mereka
tidak begitu dikenal oleh masyarakat pada saat itu, mereka sering pentas
di beberapa tempat di Purwokerto. Artikelnya yang berjudul Alas Cipenggik yang menceritakan Babad Baturraden, pernah dimuat di majalah Sekapur, sebuah majalah sekolah di Denpasar, Bali.
Kegemaran
menulisnya sempat terhenti pascapenjaringan CPNS tahun 1987. Karena
kesulitan ekonomi dan gagalnya menjadi guru negeri saat itu, ia memilih
merantau mengadu nasib ke tanah seberang, tepatnya di Medan, Sumatera
Utara pada pertengahan 1988. Setahun kemudian ia pindah ke Padang,
Sumatera Barat, bekerja menjadi sopir disebuah perusahaan sewasta. Sang
majikan yang mengetahui bahwa Kardjito berlatar belakang pendidikan SPG,
menyerahkan anak-anaknya untuk di les. Disini ia merasa menjadi manusia sebab
disamping ia sudah mempunyai kesibukan kerja, ia juga cukup membiayai
hidup diperantauan bahkan bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk
ditabung. Ia banyak belajar dari majikannya yang seorang WNI keturunan
itu.
Suatu
ketika majikannya berceria tentang perjalanan hidupnya, dari seorang
kuli harian hingga berhasil menjadi seorang pengusaha besar. Singkat
cerita, sungguh suatu perjalanan yang panjang dan tidak mudah untuk
mencapai sukses. Ketika Kardjito mengeluh bahwa dirinya hanyalah seorang
sopir yang tidak mempunyai modal apapun untuk berkembang, majikan yang
keras namun bijak itu memberinya kuliah.
“Hidup adalah perjuangan. Selagi berjuang orang tidak akan pernah menemukan kesenangan. Jangan pesimis dan jangan berprinsip biar lambat asal selamat, alon-alon asal kelakon. Kami bersemboyan orang sampai awak tibo, cepat dapat lambat ketinggalan. Kalau
orang lain bisa, kenapa saya tidak?” Itulah kata-kata yang selalu
terngiang dibenak kardjito. Namun si sopir itu berteriak dalam hatinya,
saya tidak berbakat jadi pengusaha, usia saya sudah 26. Saya butuh uang
untuk pulang.
Setinggi
– tinggi bangau terbang, ke kubangan juga ia kembali. Setelah ia merasa
telah menjadi ”tua”, pada akhir tahun 1990 ia memutuskan untuk pulang
kampung menjadi guru di daerah sendiri. Awal tahun 1992 ia diangkat
menjadi CPNS melalui tambal sulam yang ia ajukan.
Pada
tahun 1994 saat ia baru menjadi PNS, ia mengikuti lomba geguritan yang
diselenggarakan oleh PGRI Cabang Sumbang. Ia memilih judul Kloneng-kloneng pada geguritan yang ia lombakan. Kloneng-kloneng mengisahkan
seorang guru SD yang jauh dari tempat tinggalnya. Dalam lomba itu ia
meraih juara pertama. Sejak saat itu pula ia selalu memenangkan setiap
kali ada lomba yang sama ditingkat kecamatan.
Ketika
lomba membaca Geguritan Banyumasan diselenggarakan di tingkat Kabupaten
Banyumas, Kardjito hanya menjadi juara ketiga. Hal itu membuktikan
bahwa Kardjito sudah bisa menulis tapi kurang bisa membaca. Begitulah
pengakuan ayah dari dua orang anak itu. Apa lagi pada saat itu ia
bersaing dengan Fadjar dari Cilongok, seorang seniman yang dikenal di
Kabupaten Banyumas. Saat itu Fadjar-lah yang menjadi juara pertama.
Munculnya buku Nonton Ronggeng,
sebuah buku kumpulan geguritan Banyumas karya Wanto Tirta, membuat
pengarangnya dijuluki Presiden Geguritan Banyumas oleh kalangan seniman
di Kabupaten Banyumas. Dengan berkelekar, salah seorang finalis yang
duduk disebelahnya memanggil Kardjito sebagai Gubernur Geguritan
Banyumas, saat pengumuman pemenang Lomba Cipta Geguritan Tahun 2010
tingkat Kabupaten. Dengan enteng Kardjito menjawab bahwa dirinya
masih seorang Demang. Semua hadirinpun tertawa. Maklum saja mungkin ia
beranggapan bahwa dirinya adalah pendatang baru di dunia Geguritan
Banyumasan, kendati karyanya yang berjudul Gumbeng Pring Tali pernah mengantarkan anak didiknya menjadi juara pertama tingkat Propinsi Jawa Tengah.
Dalam
lomba Cipta Geguritan, Kardjito berhasil menjadi juara pertama. Ia
mendapatkan tropi dan hadiah yang diserahkan langsung oleh H.Taruna, SH
dari PGRI Propinsi Jawa Tengah. Sepur Lempung itulah judul
geguritan Kardjito, mampu menyisihkan sekitar 120 judul geguritan yang
dilombakan pada HUT PGRI ke 65 dan Hari Guru Nasional Tahun 2010.
Apakah Sepur Lempung
itu? Tentunya yang namanya sepur atau kereta api dimana-mana terbuat
dari besi. Kalaupun itu sepur mainan tentu terbuat dari plastik, seng,
ataupun logam lain. Sepur Lempung adalah konotasi dari masa lampau,
waktu yang lalu, jaman nenek moyang ataupun jaman dahulu kala. Pada masa
itu manusia terbatas dari segala fasilitas. Kebiasaan hidup yang
sederhana, orang tua dan anak yang masih lugu, guru yang masih digugu dan ditiru. Semua
bertolak belakang dengan era masa kini yang modern. Korupsi sudah
bukan merupakan berita menarik karena sudah menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari kehidupan.
……………………………………………………………………………….
Jaman sepur lempung
Sarapane sega jagung
Lawuh kluban lembayung
Monjo-monjone godhogan kangkung
Ora kebek seperes cemung
………………………………………………………………..
……………………………………………………………………
Jaman sepur lempung
Ora mung jamane wong sing urip neng dhuwur
Wong cilik sing rekasa gelem uwur sing sugih dawa tangane mripate blawuk lamur
Nilep pajeg rakyat jere nutur
Sekethip kena nggo plesir maring Singgapur ping selikur
Wis tlikur tambah ngawur……..
Cuplikan geguritan diatas sudah jelas menggunakan bahasa Jawa dialek Banyumasan. Bahasa yang ngapak dan lucu
menurut pengguna bahasa Jawa lain. Kengapakan itu yang menyebabkan
barangkali sebagian anak muda sekarang enggan dan gengsi menggunakan
bahasanya sendiri, norak bin kampungan.
Sedangkan Gumbeng Pring Tali
menggunakan bahasa Jawa standar. Yogya atau Solo Kardjito sendiri tidak
begitu memahaminya. Gumbeng Pring Tali menyoroti tentang budaya
tradisional berupa alat musik gumbeng yang dulu merupakan salah satu
alat musik yang digemari oleh kalangan masyarakat pedesaan. Namun
gumbeng sekarang menghilang bahkan anak muda tidak tahu dan barangkali
tidak akan pernah melihatnya lagi.
Ing sore nalika angin gegojegan karo srengenge
Ing tegalan tanah rata padhang sesuketan
Keprungu swara gumbeng pring tali
Nyumbang wara-wara
Kahanan ganti ora bakal lali
…………………………………………………………………..
Ting tung ting brung iwak ayam….
Sega jagung ora doyan…..
Munggah gunung isih awan…
Ting tung ting brung iki
Crita si embah jaman samana
Saiki wis diganti swarane ring tone lan orgen tunggal
Kang ngebaki angkasa
Gumbeng pring tali
Nyumbang wara-wara
Ning saiki wis padha lali
Rata-rata
geguritan karya Kardjito menggunakan kata-kata lugas, bahasa yang mudah
dicerna dan sederhana. Ia tidak akan menulis dengan kata-kata dan
bahasa tinggi yang bahkan dia sendiri tidak tahu artinya. Menurut
pengakuannya, ia sering membuka kamus bahasa jawa dan selalu
konsultasi dengan teman senior yang lebih tahu tentang bahasa wetan
saat menulis geguritan. Tidak jarang ia salah dalam mengucapkan atau
membacakan geguritan karyanya sendiri. Misalnya kata takwa dibaca takwo,
sepedha dibaca sepedho. Namun itu pula yang kadang menjadi lucu dan
menarik seperti ketika Kardjito membacakan Sepur Lempung pada acara
resepsi HUT PGRI tahun 2010 di gedung PGRI Sokaraja. Dengan berpakaian
adat Banyumas ia mulai membaca baris demi baris dengan lancar. Tetapi
tiba-tiba ia tertawa dan berteriak keras, “Ha….ha…ha…., salah, salah.
Eh, kadaran ora denile ikih ya….. Mari kita lanjut!” Diapun kembali
serius kepada tek dan meneruskan hingga selesai dengan iringan gelak
tawa semua yang hadir.
Apa
yang dilakukan seorang Kardjito bukan hal yang sulit dan tidak bisa
dilakukan oleh orang lain. Semua guru tentu bisa geguritan. Geguritan
merupakan materi yang harus diajarkan kepada siswa. Hal senada
disampaikan oleh Kardjito ketika ia ditanya seorang rekannya tentang
apakah ia akan membukukan kumpulan geguritannya mengingat telah banyak
geguritan yang ia buat.
“Saya
bisa menulis geguritan itu sudah cukup untuk bekal dan modal saya
mengajar materi itu kepada siswa. Saya juga tidak berharap banyak dari
siswa saya untuk menjadi juara ketika ada lomba. Tetapi keinginan saya
bahwa geguritan harus dikenalkan dan diajarkan kepada siswa dan mereka
harus bisa sehingga geguritan tetap eksis dan hidup, tidak hilang
terkikis oleh waktu. Siapa lagi kalau bukan seorang guru yang harus
melakukan semua itu?”
Rencananya
Kardjito sudah tidak akan mengikuti lomba serupa pada tahun-tahun yang
akan datang yang diselenggarakan oleh institusi formal. Ia akan memberi
kesempatan kepada teman-teman untuk mengembangkan dan menyalurkan minat
dan bakatnya.
Menurutnya,
menulis geguritan sungguh mengasyikan sama halnya menulis puisi dan
karya sastra lain. Meski menurut pendapat sebagian kalangan bahwa
sesuatu bisa berkembang karena bakat, tetapi menurutnya bahwa sastra
setiap orang pasti bisa. Semua kembali kepada tertarik dan tidaknya yang
bersangkutan terhadap materi tersebut serta kemauan. Kardjito-pun
menyitir filosofi seorang petani yang sukses dibidangnya dan kini
menjadi seorang milyader. Bob Sadino si Penggembala sapi ternaknya yang berjumlah ribuan ekor di padang rumput ratusan hektar miliknya. Berusaha tidak sempurna jauh lebih baik daripada tidak berusaha dengan sempurna.
JUARA 1 CIPTA GEGURITAN PGRI BANYUMAS
MATERI GEGURITAN 2010
Dening: Kang Kardjito
Ajar Waskitha
Muridku,
Sadurunge kowe mukti
Ngundhuh wohing pakarti
Bisa nglungguhi kursi dhampar kamulyan
Ombenen tirta paweling winisuda
Sinaua marang lakune wulan lan bagaskara
Kang ora wedi kesel tansah ngirim pepadhang
Sinaua marang rukune kartika lan gegana
Kang ora bosen gawe endah sesawangan
Ngajia marang kasetyane rina lan wengi
Kang gumati ngati ati
Ora nate geseh menehi titi wanci
Muridku,
Mlakua mangulon
Tututana lakuning srengenge
Mumpung isih padhang
Singkirna kabeh pepalang
Kukuden mungsuh bebuyutane wanara
Kang mbiyen nate mboyong Dewi Shinta
Ngasorake Prabu Rama
Dene sorot katutup wana kalinglingan arga
Manjing ing dhasar samudra
Iku wis dadi samesthine
Muridku,
Mlakua mangetan
Pethuken lakune rembulan
Ing wengi iki
Wasuhen sukmamu nganggo iman lan takwa
Lungguh sila khusu lan tafakur
Ajar waskitha
Marang umah balimu
Panggonanmu saiki
Panggonanmu mbesuk
Si Mbah Uga Manungsa
Ing ari anggara jenar
Wanci suruping bagaskara
Surya kaping nemlikur rongewu sepuluh
Ing tapel wates tanah nggunuk
Wedhus gembel ngamuk
Bareng karo bledug awu anget
Nyapu ereng ereng wana
Kiwa lan tengen
Ngluluhake Kinah Rejo saisine
Ing Cangkringan
Padhukuhan pucuking Sleman
Ing ari anggara jenar
Wanci suruping bagaskara
Surya kaping nemlikur rongewu sepuluh
Merapi njeblug ………
Ngukut umah kuncen Mbah Marijan
Tumpes…..
Ndadekake udan luh
Grimis tangis
Banjir getih
Nggegirisi……….
Kanthi pasrah lan sujud
Mbah Marijan milih kondur
Ngadep ing ngarsane Gusti
Nyawiji rohing Merapi
Kabeh mau mbuktekake sawijining kasunyatan
Dene ngelmu ilmiah ing pawiyatan luhur
Bisa ngasorake ati kang atos ngluwihi waja
Ora ana sing salah
Kabeh bisa seleh
Si mbah uga manungsa
Urip iki pindhane wayang
Ana sing nganggit
Ana sing nata
(Hasbunallah wa ni`mal wakil
Ni`mal maula wa ni`man nashir)*
*
Artinya: Cukuplah bagi kami Allah menjadi Tuhan kami dan Dialah sebaik
baik wakil atau yang membereskan urusan,Dialah sebaik-baik pemimpin dan
penolong.
Aku Dudu Pujangga
Wengi kemulan pedhut
Peteng ndhedhet lelimengan
Angin nggawa grimis ngirim udan
Adhem nyokot kulit tumus daging
Ing wanci gagat raina
Aku isih angon ngumbar angen-angen
Apa sing bakal dak sumbangake
Sawise mletheking bagaskara (?)
Aku dudu pujangga
Kang wasis ngukir gurit
Ngrakit ukara
Aku uga dudu maestro
Kang trampil ngracik tembung
Ngripta tembang
Mawa basa rinengga
Aku dudu dhalang
Kang bisa ngudhal piwulang
Kanthi piranti kelir lan wayang
Aku uga dudu dhukun
Kang bisa ngusadani lelara
Sebel lan puyeng
Kanthi jopa japu japa mantra
Aku iki hamung rayat
Dadi rewang sanak kadang sabrayat
Nadyan upet kari sagebyaran
Muga-muga bisa migunani
Gawe bungah ati liyan
Aku iki hamung pamong
Tukang momong anak uwong
Nadyan damar kari saklerapan
Sapa ngerti bisa gawe padhang
Anak putu sanak kadang
GEGURITAN BANYUMAS
GUMBENG PRING TALI
Dening: KARDJITO
ING SORE……………….
NALIKA ANGIN GEGOJEGAN KARO SRENGENGE
ING TEGALAN TANAH RATA PADHANG SESUKETAN
KEPRUNGU SWARA GUMBENG PRING TALI
NYUMBANG WARA-WARA
KAHANAN GANTI ORA BAKAL LALI
ING WENGI…………………….
NALIKA REMBULAN GEGOJEGAN KARO LINTANG
ING UMAH LAN PEDANGAN
KEPRUNGU KIDUNG TENGAH WENGI
KAIRING GUMBENG PRING TALI
NYUMBANG WARA--WARA
KAHANAN GANTI ORA BAKAL LALI
ING ESUK…………………………
NALIKA EMBUN GEGOJEGAN KARO PEDHUT
ING PINGGIR SAWAH
ESIH KEPRUNGU SWARA GUMBENG PRING TALI
NADYAN LIRIH MERAK ATI
TING TUNG TING BRUNG IWAK AYAM….. (tembang)
SEGA JAGUNG ORA DOYAN……
MANJAT GUNUNG OLIH PRAWAN……
TING TUNG TING BRUNG IKI
CRITA SI MBAH JAMAN SAMANA
SAIKI WIS DIGANTI
SWARANE RING TONE LAN ORGEN TUNGGGAL
KANG NGEBAKI ANGKASA
GUMBENG PRING TALI
NYUMBANG WARA-WARA
NING SAIKI WIS PADHA LALI
Langganan:
Postingan (Atom)


